YANG TERLUPAKAN
|
Pagi itu, alarm ku sudah berbunyi
belasan kali. Entah kenapa mata ini enggan sekali terbuka akibat buaian
lembutnya kasur di kamarku. Tenang saja, tak perlu khawatir akan terlambat
datang ke sekolah, karena hari ini adalah hari libur akibat pemilukada serentak
di Indonesia. Aku masih belum dapat merasakan bagaimana rasanya pesta demokrasi
dan sensasi datang ke bilik suara di TPS,
karena usiaku memang masih 16
tahun. Namun sejenak aku terperanjat dan lekas membuka mata ketika ayahku
membangunkanku.
“Nak, cepat bangun. Masak anak perempuan bangunnya
keduluan sama matahari terbit.” Teriaknya.
“Iya yah sebentar lagi, masih ngantuk nih” Jawabku.
“Masak calon generasi penerus bangsa suka
bermalas-malasan.” Sahutnya.
Sontak perasaan malu langsung hinggap di relung
hatiku. Langsung saja kupaksakan bangun dari tempat tidurku dengan kondisi mata
setengah terpejam.
“Yah, kan hari ini libur, sesekali bolehlah bangun
agak siang.” Kataku sedikit bercanda.
“Daripada waktumu terbuang dengan bermalas-malasan,
lebih baik kamu menyibukkan diri dengan rutinitasmu, Nak.”Sahut Ayahku.
“Iya, Yah. Ini aku sudah bangun kan. Maaf ya,Yah.”
Ucapku dengan menyimpulkan sedikit guratan senyuman di bibirku.
“ Sudah sudah..sana cepat mandi dan ganti baju,
bantu ibumu memasak, setelah itu antarkan Ayah ke TPS ya..”Jawab Ayahku.
Aku
bergegas melangkahkan kaki menuju ke kamar mandi, dan kulanjutkan dengan
membantu ibu mengerjakan pekerjaan rumah. Ibuku memang sedikit terburu-buru
karena sudah ada janji datang ke TPS dengan tetangga, sehingga pekerjaan rumah
yang belum dikerjakan harus segera aku selesaikan. Tak lama kemudian, Ayah
memintaku mengantarkannya ke TPS yang jaraknya sebenarnya tidak terlalu jauh
dari rumah kami.
Aku
hanya menuggu di depan TPS dan menyaksikan antusiasme warga di desaku
memeriahkan pesta rakyat yang hanya terjadi beberapa tahun sekali itu. Namun
perhatianku tertuju pada kakek tua penjual arum manis yang memarkirkan sepeda
onthel tuanya di bawah pohon. Sebenarnya
aku sudah tidak asing lagi dengan kakek itu, karena aku sering melihatnya
berjualan di sekitar Desaku. Langkahnya yang gemetar keluar dari TPS dengan
nafas yang sedikit tersengal memaksa Kakek itu untuk duduk sejenak di teras
depan TPS. Aku pun tertarik menghampirinya.
“Kek, Kakek sudah selesai menyampaikan hak pilih?”
Tanyaku.
“Sudah, Nak. Kamu tidak nyoblos?” Tanyanya balik.
“Tidak, Kek. Usia saya baru 16 tahun, masih belum cukup umur untuk mengikuti
pemilihan umum. Kek, apa sepeda tua sekaligus gerobak arum manis itu milik
kakek?”
“Iya, Nak. Itu adalah sumber penghasilan kakek
satu-satunya selama 30 tahun terakhir ini. Kamu mau beli?”
“Tentu saja kek. Kebetulan saya suka sekali dengan
arum manis.”
Kemudian
kami berdua bergegas menuju gerobak kakek itu dan beliau segera memasak arum
manis untukku. Miris memang, kakek itu segera menyalakan kompor tua dan
memasukkan gula ke dalam pembakaran arum manis. Sebuah alat pembuat arum manis
tradisional yang dibuat sendiri oleh Kakek itu menjadi satu-satunya tumpuan
penyambung hidupnya. Rasanya seperti tidak tega melihat tangan kurus dan juga
keriput Kakek itu memutar pedal alat pembuat arum manis.
“Ini nak, sudah jadi.”
“Berapa, Kek? Oh iya...kakek tinggal di mana kek?
“Rp.1.500,- Nak. Kakek tinggal di pinggir desa ini,
tepatnya di depan langgar sawo. Disana ada rumah tua yang sudah kuno. Itu rumah
kakek.”
“Oh iya, Kek..saya tahu. Kek apa Rp. 1.500,- cukup
kek? Ini terasa terlalu murah kek? Kek bolehkah besok sepulang sekolah aku
kerumah kakek untuk membei arum manis?”
“Alhamdulillah cukup, Nak. Kakek pasti dengan senang
hati menerima kedatanganmu.”
Sepanjang hari itu aku masih saja memikirkan kakek
tua itu. Beliau harus bekerja banting tuang di usianya yang sudah tidak muda
lagi dengan penghasilannya yang sangat terbatas itu.
Keesokan hari setelah pulang sekolah, aku datang ke
rumah kakek tua itu.
“Assalamualaikum...?”Salamku.
Waalaikumsalam...Oh kamu, Nak. Silahkan masuk.”
Sahut Kakek itu dari dalam rumah.
Kakiku kuayunkan ke depan sembari
melihat isi rumah yang hampir rubuh termakan usia itu, namun aku sedikit
terheran ketika melihat ornamen dan hiasan khas pejuang di rumah itu. Terdapat
helm pejuang dan bebeapa senapan terpajang di dalam lemari kaca tua. Dan yang
paling membuatku heran, aku melihat sebuah bingkai foto tua yang terpajang di
dalamnya gambar seorang pemuda tinggi dan tegap berseragam veteran bersama Ir.
Soekarno. Mataku terus saja terbelalak memandang foto itu, hingga aku lupa akan
tujuanku untuk membeli arum manis.
“Nak, perkenalkan saya Kek Jono. Kakek tinggal
sebatangkara disini.” Ucap Kakek itu.
“Kek, mengapa ada foto Ir. Soekarno dan seorang
pemuda di sana?” Tanyaku.
“Nak, ketahuilah...kakek dulunya adalah seorang
pejuang kemerdekaan RI. Pemuda di foto itu adalah kakek ketika masih berusia 21
tahun. Sekarang, usia kakek sudah 91 tahun.”
“Kek, lalu kenapa kakek sekarang hidup serba
terbatas seperti ini? Apa tidak ada perhatian dari pemerintah?”
“Tidak, Nak. Pemerintah hanya memperharikan kakek
ketika tiba saatnya hari pahlawan saja. Kadang kakek mendapatkan sumbangan
sembako dari pemerintah. Hanya skedar itu.”
“Berat sekali perjuangan hidup yang harus kakek
lewati.”
“Itu tidak seberapa nak. Kakek merasa bangga melihat
gedung-gedung tinggi dan industri yang berkembang pesat di daerah kita.
Perjuangan kakek dan kawan-kawan tidak akan sia-sia. Dulu kakek adala seorang
Letnan yang memimpin salah satu pasukan gerilya. Kakek juga pernah merasakan
jatuh cinta pada wanita, namun cinta kakek pada ibu pertiwi lebih besar dari
itu. Orang tua gadis itu juga tidak setuju jika anaknya menikah dengan seorang
Letnan gerilyawan yang nyawanya selalu terancam sepanjang waktu. Hingga kakek
memutuskan untuk tetap tidak menikah hingga sekarang.”Jawabnya dengan mata
berkaca-kaca.
“Kek, lalu bagaimana kakek bisa sampai menjadi
penjual arum manis? Tanyaku?”
“Dulu kakek kenal dengan Pak Karno, kakek menjadi
salah satu orang kepercayannya. Hingga pada suatu hari ketika kakek dan tim
kakek sedang melakukan gerilya, entah siapa yang berkhianat hingga pasukan
Jepang mengetahui keberadaan tim kami. Mereka menyerang kami dengan membabi
buta. Tak banyak dari kami yang selamat. Kakek berhasil meloloskan diri dengan
luka mengaga di lengan kiri dan betis kanan kakek akibat senapan, hingga
terlambat mendapatkan penanganan dan kakek menjadi pincang hingga sekarang. Hal
itu membuat kakek dulu sempat tidak bisa berjalan, hingga akhirnya ketika
sekutu berhasil mengalahkan Jepang, seluruh pasukan Jepang ditarik ke
negaranya. Kondisi ini dimanfaatkan Pak. Karno untuk membacakan teks
proklamasi. Hati kakek terasa terhanyut penuh suka cita saaat itu, perjuangan
kakek tak sia-sia.” Cerita Kek Jono dengan suara yang lirih.
“Kenapa kakek mau melakukan semua hal itu?”Tanyaku
lagi.
“Kakek hanya ingin melihat generasi penerus kakek
menjadi orang-orang yang bebas dan merdeka, tanpa tekanan dan siksaan. Kamu dan
teman-temanmu kelak akan menentukan langkah selanjutnya dari bangsa ini, Nak. Pegang
teguh kejujuran dan perhatikan kaum kurang mampu. Kakek yakin Indonesia pasti
bisa. Tidak ada perjuangan yang sia-sia. Meskipun kini kakek menjadi yang
terlupakan.” Jelas Kek Jono.
Hatiku
seakan ikut terasa tercabik mendengarnya. Semenjak saat itu aku bertekat untuk
tidak malas-malasan dan akan berjuang menuntut ilmu agar kelak bisa memimpin
bangsa ini dengan baik, dan memperhatikan orang-orang seperti Kek Jono, yang
terlupakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar