Selasa, 15 Desember 2015

CERPEN PERJUANGAN



YANG TERLUPAKAN

Pagi itu, alarm ku sudah berbunyi belasan kali. Entah kenapa mata ini enggan sekali terbuka akibat buaian lembutnya kasur di kamarku. Tenang saja, tak perlu khawatir akan terlambat datang ke sekolah, karena hari ini adalah hari libur akibat pemilukada serentak di Indonesia. Aku masih belum dapat merasakan bagaimana rasanya pesta demokrasi dan sensasi datang ke bilik suara di TPS,  karena usiaku memang masih  16 tahun. Namun sejenak aku terperanjat dan lekas membuka mata ketika ayahku membangunkanku.
“Nak, cepat bangun. Masak anak perempuan bangunnya keduluan sama matahari terbit.” Teriaknya.
“Iya yah sebentar lagi, masih ngantuk nih” Jawabku.
“Masak calon generasi penerus bangsa suka bermalas-malasan.” Sahutnya.
Sontak perasaan malu langsung hinggap di relung hatiku. Langsung saja kupaksakan bangun dari tempat tidurku dengan kondisi mata setengah terpejam.
“Yah, kan hari ini libur, sesekali bolehlah bangun agak siang.” Kataku sedikit bercanda.
“Daripada waktumu terbuang dengan bermalas-malasan, lebih baik kamu menyibukkan diri dengan rutinitasmu, Nak.”Sahut Ayahku.
“Iya, Yah. Ini aku sudah bangun kan. Maaf ya,Yah.” Ucapku dengan menyimpulkan sedikit guratan senyuman di bibirku.
“ Sudah sudah..sana cepat mandi dan ganti baju, bantu ibumu memasak, setelah itu antarkan Ayah ke TPS ya..”Jawab Ayahku.
            Aku bergegas melangkahkan kaki menuju ke kamar mandi, dan kulanjutkan dengan membantu ibu mengerjakan pekerjaan rumah. Ibuku memang sedikit terburu-buru karena sudah ada janji datang ke TPS dengan tetangga, sehingga pekerjaan rumah yang belum dikerjakan harus segera aku selesaikan. Tak lama kemudian, Ayah memintaku mengantarkannya ke TPS yang jaraknya sebenarnya tidak terlalu jauh dari rumah kami.
            Aku hanya menuggu di depan TPS dan menyaksikan antusiasme warga di desaku memeriahkan pesta rakyat yang hanya terjadi beberapa tahun sekali itu. Namun perhatianku tertuju pada kakek tua penjual arum manis yang memarkirkan sepeda onthel tuanya di bawah  pohon. Sebenarnya aku sudah tidak asing lagi dengan kakek itu, karena aku sering melihatnya berjualan di sekitar Desaku. Langkahnya yang gemetar keluar dari TPS dengan nafas yang sedikit tersengal memaksa Kakek itu untuk duduk sejenak di teras depan TPS. Aku pun tertarik menghampirinya.
“Kek, Kakek sudah selesai menyampaikan hak pilih?” Tanyaku.
“Sudah, Nak. Kamu tidak nyoblos?” Tanyanya balik.
“Tidak, Kek. Usia saya baru 16 tahun,  masih belum cukup umur untuk mengikuti pemilihan umum. Kek, apa sepeda tua sekaligus gerobak arum manis itu milik kakek?”
“Iya, Nak. Itu adalah sumber penghasilan kakek satu-satunya selama 30 tahun terakhir ini. Kamu mau beli?”
“Tentu saja kek. Kebetulan saya suka sekali dengan arum manis.”
            Kemudian kami berdua bergegas menuju gerobak kakek itu dan beliau segera memasak arum manis untukku. Miris memang, kakek itu segera menyalakan kompor tua dan memasukkan gula ke dalam pembakaran arum manis. Sebuah alat pembuat arum manis tradisional yang dibuat sendiri oleh Kakek itu menjadi satu-satunya tumpuan penyambung hidupnya. Rasanya seperti tidak tega melihat tangan kurus dan juga keriput Kakek itu memutar pedal alat pembuat arum manis.
“Ini nak, sudah jadi.”
“Berapa, Kek? Oh iya...kakek tinggal di mana kek?
“Rp.1.500,- Nak. Kakek tinggal di pinggir desa ini, tepatnya di depan langgar sawo. Disana ada rumah tua yang sudah kuno. Itu rumah kakek.”
“Oh iya, Kek..saya tahu. Kek apa Rp. 1.500,- cukup kek? Ini terasa terlalu murah kek? Kek bolehkah besok sepulang sekolah aku kerumah kakek untuk membei arum manis?”
“Alhamdulillah cukup, Nak. Kakek pasti dengan senang hati menerima kedatanganmu.”
Sepanjang hari itu aku masih saja memikirkan kakek tua itu. Beliau harus bekerja banting tuang di usianya yang sudah tidak muda lagi dengan penghasilannya yang sangat terbatas itu.
Keesokan hari setelah pulang sekolah, aku datang ke rumah kakek tua itu.
“Assalamualaikum...?”Salamku.
Waalaikumsalam...Oh kamu, Nak. Silahkan masuk.” Sahut Kakek itu dari dalam rumah.
Kakiku kuayunkan ke depan sembari melihat isi rumah yang hampir rubuh termakan usia itu, namun aku sedikit terheran ketika melihat ornamen dan hiasan khas pejuang di rumah itu. Terdapat helm pejuang dan bebeapa senapan terpajang di dalam lemari kaca tua. Dan yang paling membuatku heran, aku melihat sebuah bingkai foto tua yang terpajang di dalamnya gambar seorang pemuda tinggi dan tegap berseragam veteran bersama Ir. Soekarno. Mataku terus saja terbelalak memandang foto itu, hingga aku lupa akan tujuanku untuk membeli arum manis.
“Nak, perkenalkan saya Kek Jono. Kakek tinggal sebatangkara disini.” Ucap Kakek itu.
“Kek, mengapa ada foto Ir. Soekarno dan seorang pemuda di sana?” Tanyaku.
“Nak, ketahuilah...kakek dulunya adalah seorang pejuang kemerdekaan RI. Pemuda di foto itu adalah kakek ketika masih berusia 21 tahun. Sekarang, usia kakek sudah 91 tahun.”
“Kek, lalu kenapa kakek sekarang hidup serba terbatas seperti ini? Apa tidak ada perhatian dari pemerintah?”
“Tidak, Nak. Pemerintah hanya memperharikan kakek ketika tiba saatnya hari pahlawan saja. Kadang kakek mendapatkan sumbangan sembako dari pemerintah. Hanya skedar itu.”
“Berat sekali perjuangan hidup yang harus kakek lewati.”
“Itu tidak seberapa nak. Kakek merasa bangga melihat gedung-gedung tinggi dan industri yang berkembang pesat di daerah kita. Perjuangan kakek dan kawan-kawan tidak akan sia-sia. Dulu kakek adala seorang Letnan yang memimpin salah satu pasukan gerilya. Kakek juga pernah merasakan jatuh cinta pada wanita, namun cinta kakek pada ibu pertiwi lebih besar dari itu. Orang tua gadis itu juga tidak setuju jika anaknya menikah dengan seorang Letnan gerilyawan yang nyawanya selalu terancam sepanjang waktu. Hingga kakek memutuskan untuk tetap tidak menikah hingga sekarang.”Jawabnya dengan mata berkaca-kaca.
“Kek, lalu bagaimana kakek bisa sampai menjadi penjual arum manis? Tanyaku?”
“Dulu kakek kenal dengan Pak Karno, kakek menjadi salah satu orang kepercayannya. Hingga pada suatu hari ketika kakek dan tim kakek sedang melakukan gerilya, entah siapa yang berkhianat hingga pasukan Jepang mengetahui keberadaan tim kami. Mereka menyerang kami dengan membabi buta. Tak banyak dari kami yang selamat. Kakek berhasil meloloskan diri dengan luka mengaga di lengan kiri dan betis kanan kakek akibat senapan, hingga terlambat mendapatkan penanganan dan kakek menjadi pincang hingga sekarang. Hal itu membuat kakek dulu sempat tidak bisa berjalan, hingga akhirnya ketika sekutu berhasil mengalahkan Jepang, seluruh pasukan Jepang ditarik ke negaranya. Kondisi ini dimanfaatkan Pak. Karno untuk membacakan teks proklamasi. Hati kakek terasa terhanyut penuh suka cita saaat itu, perjuangan kakek tak sia-sia.” Cerita Kek Jono dengan suara yang lirih.
“Kenapa kakek mau melakukan semua hal itu?”Tanyaku lagi.
“Kakek hanya ingin melihat generasi penerus kakek menjadi orang-orang yang bebas dan merdeka, tanpa tekanan dan siksaan. Kamu dan teman-temanmu kelak akan menentukan langkah selanjutnya dari bangsa ini, Nak. Pegang teguh kejujuran dan perhatikan kaum kurang mampu. Kakek yakin Indonesia pasti bisa. Tidak ada perjuangan yang sia-sia. Meskipun kini kakek menjadi yang terlupakan.” Jelas Kek Jono.
            Hatiku seakan ikut terasa tercabik mendengarnya. Semenjak saat itu aku bertekat untuk tidak malas-malasan dan akan berjuang menuntut ilmu agar kelak bisa memimpin bangsa ini dengan baik, dan memperhatikan orang-orang seperti Kek Jono, yang terlupakan.